Pengertian Demokrasi

Sabtu, 06 Februari 2010


Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan.

Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih).

Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya kedaulatan memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama dari sebagian masyarakat yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola, bukan sistem pemerintahan yang bagus, sebagai tokoh impian ratu adil. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin negara, masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara. Banyak negara demokrasi hanya memberikan hak pilih kepada warga yang telah melewati umur tertentu, misalnya umur 18 tahun, dan yang tak memliki catatan kriminal (misal, narapidana atau bekas narapidana).

Dimensi Kehidupan


Kucoba tuk kabur,

terlanjur diri terbelenggu.

Kucoba tuk sembunyi,

terlanjur bashir Tuhan tahu.

Kuingin terbang,

namun sayap patah.

Kuingin menahan,

namun kulit mengelupas.

Kesendirianku,

selalu kau hantui.

Kerinduanku,

selalu kau hiraukan.

Kebebasanku,

selalu kau jaga

Mahmuddin Ridlo,

MTs Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta.

Kemampuan Bahasa Inggris


Kemampuan berbahasa Inggris pada setiap siswa memang berbeda-beda. Hal itu mungkin bisa dikarenakan cara belajarnya yang bermacam-macam, semangat belajarnya atau pas lagi mood-nya pakai menggunakan bahasa Inggris. Hal ini juga tak lepas dari semboyan negara kita yaitu, Bhineka Tunggal Ika, ya nggak?

Bersangkutan dengan hal di atas, Saya punya suatu kenangan di kelas saat pelajaran bahasa Inggris..

Pada suatu ketika, guru bahasa Inggris saya heran. Mengapa kemampuan bahasa Inggris saya dan teman-teman saya selalu bervariasi. Artinya, saat ditanya arti bahasa Indonesianya ada yang bisa dan tidak.

“Coba Kamal, apa bahasa Iggrisnya counter?” tanya Guru bahasa Inggris saya suatu saat.

Karena dia paham sekali tentang dunia HP, Dia menjawab, “Pusat, Paaak”.

Usut punya usut. Guru saya berpendapat bahwa kemampuan bahasa Inggris siswa di kelas saya berbeda-beda karena banyak sedikitnya bahasa Inggris yang dekat dengan kehidupan keseharian kami. Maksudnya, apa saja kata bahasa inggris yang sering kami temui dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya guru saya bertanya, “Ria, apa bahasa Inggrisnya orang yang suka buat masalah?”

Ketika Ria, teman saya yang sering membuat saya dan teman saya -maaf- kesal, Teman sekelas spontan berteriak, “Trouble maker, Paaak”.

Mahmuddin Ridlo, siswa MTs Nurul Ummah, Yogyakarta.

BERDUKA

tuk Kota Solo

Bocah-bocah tak lagi memancing

tak lagi berenang

mengumbar kegembiraan.

Kini, sudah menjelma neraka

yang siap menjilat nyawa.

Bersabarlah, nak.

Sungai kebanggaan itu

meluapkan untahan dari perutnya.

Sekali lagi bersabarlah, nak…

Karena menjinjing dan menggendong bawaan,

lebih baik dari memancing dan berenang.

Selama lilin belum meredup

oleh terpaan hawa dingin dan panas,

sulutkan semangat bangkit!!!

13.15, 27/12/07

Mahmuddin Ridlo,

siswa MTs Nurul Ummah, Yogyakarta

Jerit Tangisku

Rintikan mutiara melesat derasnya.

Mereka menari-nari dan melompat-lompat

selama rotasi bumi tak kunjung reda jua.

Nestapa di ambang pintu.

Malaikat maut memasang muka seram.

Kami takut…

Cukup sudah dua belas tempat tinggal kami…

Cukup sudah sawah, peternakan, keduniawiaan kami

jadi bulanan.

Tak dipungkiri, hatiku…Indonesiaku…berkabung.

12.58, 27/12/07

Mahmuddin Ridlo,

siswa MTs Nurul Ummah, Yogyakarta

Sampai Kapan Bencana Terhenti…

Mentereng caya sumber kehidupan

masih seukuran tombak, tiba di peraduan.

Helaian hawa segar masih melenakan.

Ku mulai menyantap lembaran-lembaran informasi,

Mengeja kalimat, tuk buka jendela dunia.

Tiba-tiba, semua syaraf tercekik.

Hamparan surga zamrud katulistiwa ini,

luluh lantak.

Tak sanggup pita hitam, mawar, dan kembang kamboja

melupakan goresan luka ini.

Dalam luka yang membabi buta masih mengerang;

Kapan negeri ini hidup tenang?

Hus, jangan bodoh, ini sir Illahi!

14.42, 27/12/07

Mahmuddin Ridlo,

siswa MTs Nurul Ummah, Yogyakarta

1. Sir Illahi: rahasia Tuhan

Surat Tantangan


Oleh: Mahmuddin Ridlo

“Gooooooooool…!” Jerit Andi dengan suaranya yang memekakan telinga. Ia menyambut kawannya, Fadli yang telah berhasil memasukan bola ke gawang Didi.

“Gimana sih kamu Di? Bisa nangkap bola nggak? Kalo gak bisa ditabrak aja,” olok Gatot. Orang yang dimarahi itu hanya diam, dia sendiri pun juga tidak setuju dengan permainan Gatot yang egois sendiri.

Dua tim sepak bola sedang bertanding dengan serunya. Sepanjang jalanya pertandingan, kedua tim tidak mau mengalah, bahkan sering terjadi pelangagaran, karena kedua tim yang merasa dirugikan dan tidak terima. Bola digiring, diumpan, dan ditendang, begitu seterusnya.

“Priiit…priiit…priiiiiit…,” Anton meniupkan peluit panjang tanda pertandingan usai.

Bola pun ditendang keluar lapangan. Fadli, Andi, Anang, dan teman-temanya hendak berjabat tangan Gatot dan teman-temannya.

“Hah, waktu habis!” kesal Gatot. Dalam batinnya ada perasaan tidak terima atas nasib timnya yang kalah tipis dari timnya Fadli, 4-3.

“Sudah Tot, terima saja kekalahan kita, mungkin menang bukan nasib kita saat ini,” kata Indra memberi nasihat pada Gatot.

Gatot semakin gusar sendiri. Dalam permainan itu, Ia berusaha tampil ngotot sekali. Skil individualitas ia tampilkan untuk menjadi jenderal lapangan. Namun, sayangnya Gatot kurang mempunyai rasa kerja sama pada timnya.

“Cuih, awas kamu, ini belum berakhir, masih ada leg kedua,” kata Gatot. Fadli dan teman-temanya tidak tahu apa yang dimaksud dengan perkataan Gatot tadi.

Mereka langsung pergi meninggalkan lapangan, sesaat hilang ditelan pepohonan rindang yang besar. Disekitar lapangan.

***

Selamanya kekalahan atas timn yang selalu menang dalam setiap pertandingan, tidak akan pernah dilupakan oleh pemin-pemainya. Bagi Gatot, Kekalahan harus dibalas dengan kemenangan yang mutlak. Pertandingan demi pertandingan yang pernah dijalani Singa Hutan, julukan kesebelasan Gatot tak pernah kalah, kalaupun seri, mereka akan membalas dengan angka mutlak diperjumpaan yang akan datang.

“Mereka harus diberi pelajaran,” putus Gatot.

“Siapa, Tot,” tanya Didi.

“Fadli dan anak buahnya. Tunggu saja,” awas Gatot.

Gatot pergi menuju kelasnya. Sepertinya ia menulis sesuatu dan menggambar tanda menantang di atas kertas sobekan itu.

Dia terus berjalan menyusuri koridor sekolah yang tampak ramai. Tangannya mengepal, mukanya merah, dan sorot matanya tajam, bak petinju memasuki ring tinju.

Suasana kelas Fadli sepi, biasanya mereka istirahat langsung ke kantin sekolah. Gatot mendobrak meja Fadli hingga berantarakan. Surat tantangan itu diletakkanya diatas meja.

Selesai sudah siasat yang telah Gatot susun. Kini, tinggal menungu tindakan Fadli, di sana tertulis kata di bawah kertas; ‘Kalo lo nggak mau dikatakan pengecut, terima tantangan ini.’

***

Selesai membaca surat itu, Fadli menaggapinya dengan kepala dingin. Walaupun itu surat kaleng yang tak ditulis nama pengirimnya, Fadli bisa menebak siapakah pengirimnya..

Sementara itu, Gatot terus berlatih, siang-sore, panas-hujan tidak Gatot hiraukan. Namun, tibas-tiba Gatot sakit, karena latihan sepak bolanya yang tidak diatur.

Tibalah hari yang dinantikan. Kabar burung heboh menyelimuti seisi sekolah. Sejak kemarin Gatot tidak masuk, ternyata ia sakit demam dan meriang.

“Teman-teman yuk kita jenguk Gatot saja. Sepak bolanya batal,” ajak Fadli pada teman-temannya.

“Lho, pertandingannya kan sekarang. Kita jangan mau dikatakan pengecut,” tolak Andi.

“Sudahlah, sekarang ikut aku saja ke rumah Gatot, yuk,” ajak Fadli sekali lagi. Mereka tahu apa yang dimaksud Fadli adalah baik.

Di rumah Gatot, Ia terbaring lemas. Ibunya mempersilahkan Fadli dan teman-temannya masuk. “Gatot! ada teman-temanmu,” kata Ibu Gatot.

Betapa kaget raut wajah Gatot mengetahui siapa yang datang menjengunknya. Gatot terharu dan meminta maaf atas kelakuannya selama ini dan tentang surat tantangan itu.

Mereka tenggelam dalam canda. Akhirnya Fadli dan teman-temannya berjabat tangan dengan Gatot sebagai tanda persahabatan. (Penulis, murid MTs Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta)

Pro Kontra MBS: Sebaiknya Belajar dari Pengalaman



SEBENARNYA saya tidak bermaksud untuk secara terus-menerus berpolemik tentang manajemen berbasis sekolah (MBS) dengan Sutedjo. Akan tetapi, karena Sutedjo menanggapi ulang tanggapan saya tentang MBS (Kompas, 28/9/2001)-dan tanggapan Sutedjo perlu "diluruskan"-maka saya mencoba untuk menanggapinya kembali. Tujuannya bukan untuk "berdebat kusir", tetapi ingin saling membagi pengalaman dan agar kita memahami bahwa pada dasarnya tidak ada model manajemen pendidikan yang paling baik di antara model manajemen pendidikan yang ada.

Yang sangat saya khawatirkan dari pola pikir Sutedjo adalah karena dia selalu meminta kita untuk menyimak enam
tahapan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) yang diisyaratkan Depdiknas (Kompas, 31/8/2001 dan 28/9/2001). Jika Sutedjo "memaksakan kehendak" agar MPMBS dilaksanakan sesuai dengan keenam tahapan itu, maka pertanyaannya adalah apakah kalau tidak melaksanakan keenam tahapan tadi lalu sekolah tidak ber-MBS ria? Dan, kalau saya hanya mencantumkan tiga/empat pilar MBS, lantas saya dianggap mereduksi sebuah pemikiran?

***

AMBRUKNYA tatanan kehidupan kita selama ini, sebagaimana sering dirasakan oleh setiap orang, adalah karena kita terbelenggu dalam pola keseragaman yang mengungkung kreativitas kita. Selama sekitar 32 tahun pola hidup kita-termasuk pola pendidikannya-harus mengikuti satu komando atau satu aturan dari pusat. Tidak ada seorang pun yang boleh berbeda. Akibatnya, tertimbunlah stigma (luka psikologis) yang sewaktu-waktu dapat menjadi bom waktu. Dan, benar, begitu era reformasi lahir, keseragaman itu kita tuding menjadi biang keladi segala kehancuran sistemik yang ada dalam semua aspek kehidupan.

Salah satu bentuk yang paling menonjol dari kesalahan masa lalu adalah tidak tersedianya wadah untuk berbeda pendapat, untuk berbeda warna, dan untuk beragam. Semuanya harus sama, satu, dan seragam. Jika tidak, maka kita akan dianggap "tidak loyal", "pembangkang" atau "orang-orang yang harus disingkirkan". Pusat sangat dominan, sehingga daerah hanya menjadi "pelaksana" saja.

Di era otonomi daerah yang berimplikasi kepada otonomi pendidikan dan otonomi sekolah, sudah sepantasnya kalau kita memberikan "kebebasan" kepada sekolah untuk berimprovisasi dan melaksanakan MBS sesuai kemampuannya. Tidak harus menunggu sampai bisa melaksanakan keenam langkah sebagaimana yang ditegaskan Sutedjo.

Oleh karena itu, jika saya selalu mengatakan bahwa hanya ada tiga (sekarang berkembang menjadi empat) pilar MBS sebagaimana dikembangkan pada Kegiatan Rintisan MBS, maka sebenarnya tidak ada niatan untuk mereduksi pemikiran dan langkah yang berderet-deret itu. Yang penting adalah bagaimana suatu sekolah dapat mengembangkan (1) transparansi manajemen sekolah, (2) pembelajaran aktif dan efektif, (3) pembelajaran yang menyenangkan, dan (4) peran serta masyarakat.

Dalam Kegiatan Rintisan Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan yang dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Mojokerto dan Probolinggo untuk Provinsi Jawa Timur, MBS tidak harus dilaksanakan dengan cara yang serta merta. Yang penting adalah ada upaya ke arah yang lebih positif sesuai dengan model MBS. Semua itu bertujuan mengarah kepada upaya peningkatan mutu pendidikan, khususnya di SD.

Nah, jika Sutedjo memang bergerak pada jenjang SMU, maka silakan saja. Yang penting adalah sama-sama memiliki visi dan misi yang jelas ke arah peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini, maka saya sangat sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Sinung D Kristanto, Kepala Kantor Unicef Surabaya, yang mengatakan bahwa pemisahan antara pembelajaran aktif dan pembelajaran menyenangkan semata-mata karena perbedaan aksentuasinya. Unicef lebih menohok kepada joyful learning, sebab yang penting adalah bagaimana anak-anak bisa belajar dengan senang. Selain anak-anak, guru dan orangtua/wali murid pun harus senang. Dengan demikian, maka hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan benar-benar terwujud. Dan, pendidikan yang diharapkan adalah pendidikan yang merindukan anak, bukan yang memenjarakan kreativitas anak.

Untuk mencapai sasaran MBS, maka peran guru, kepala sekolah, pengurus BP3, wali murid, dan para stakeholder yang kemudian tergabung dalam Dewan Sekolah hendaknya benar-benar dapat duduk bersama, berembuk bersama, menentukan visi dan misi pendidikan ke depan. Ini tidak berarti akan menghilangkan semua peran pusat maupun provinsi. Sebab, di samping ada desentralisasi, masih berlaku dekonsentrasi.

***

JIKA kita menyadari bahwa sebenarnya MBS hanyalah salah satu model manajemen yang dikembangkan di Indonesia sekarang (dengan segala kekuatan dan kelemahannya), maka semestinya kita berupaya untuk mencapai hasil sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Kita tidak perlu mengharuskan orang lain melakukan sesuatu di
luar batas kemampuannya. Apalagi kita tidak bisa menjamin bahwa sebuah model manajemen yang kini kita terapkan, akan selamanya dipakai. Sebab, setiap inovasi akan disusul oleh inovasi berikutnya.

(Achmad Sapari, pengawas TK/SD di Probolinggo )

Yang Tak Terlupakan


Kucing Kencing Sembarangan

Musim hujan sudah di depan mata. Biasanya, banyak gejala-gejala terjadi diawal musim ini. Salah satu diantaranya adalah kedatangan kucing-kucing yang bagaikan menyerbu asrama kami. Kehadirannya yang tak diharapkan membuat hati kami kesal.

Yang membuat kami kesal adalah ulahnya yang sangat seenaknya. Ya, namanya juga hewan yang tak berakal, namun jika hewan itu dibiarkan dan dibebaskan kenakalannya, apa tidak akan merugikan kaum manusia. Itu juga merupakan pelanggaran hak hidup layak, tul gak?

Pernah suatu saat pada musim hujan yang lalu, kucing-kucing tak diundang itu nyelonong datang. Kakinya kotor, badannya bau, lapar akan makanan dan bulunya yang jorok. Karena daftar keuntungan kucing itu datang dan daftar kerugian kucing itu dating lebih besar kerugiannya. Maka, kami bersepakat membuangnya jauh-jauh. Namun, masih juga ada yang sayang binatang yang kondisinya sudah begitu. Keputusan kami bulat, kucing itu kami buang.

Nah, pada musim hujan yang tiba kali ini, hal serupa terjadi. Seekor kucing jorok -maaf bukannya saya menghina seekor kucing dengan rasa tak hewani, namun kita anggap kucing yang ini jorok, bukan yang lain - asrama kami. Awalnya kami cukup berhati-hati.

Namun, sepandai-pandai tupai melompat, pasti jatuh juga, kelengahan kewaspadaan dialami teman asrama saya. Saat saya dan teman-teman seasrama saya sedang berdzikir setelah sholat subuh, kucing itu duduk dipangkuan teman saya. Dia yang ngantuk kaget dan menaruhnya di sampinganya. Apa yang terjadi? Kucing itu malah duduk lagi dipangkuan teman saya dan kencing di situ. Spontan teman saya kaget, aduuuh…..kena apes.?!@#&

Mahmuddin Ridlo,

Santri asrama Pelajar PP Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta

Sungguh-Sungguh Terjadi / SKH Kedaulatan Rakyat

Pada waktu yang sama, saya membeli bullpen seharga 2.500, dengan uang 50.000, dan saya dikasih kembalian. Namun, temn saya beli sabun seharga 1.500, dengan uang 50.000 juga tidak diterima karena uangnya kebesaran. Kasihan….(Kiriman: Mahmuddin Ridlo, santri PP Nurul Ummah, Yogyakarta)