Perpustakaan MTs Nurul Ummah berada di lingkungan Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta hadir untuk memenuhi kebutuhan siswa, guru dan karyawan
Dari Ibnu Umar r.a., Nabi bersabda : ‘Menjadi kewajiban muslim untuk selalu mendengar dan patuh (kepada pemimpin) baik dalam hal yang ia suka atau ia benci, kecuali ia disuruh melakukan maksiat, maka tidak ada keharusan mendengar dan mematuhi.’
Hadist di atas menerangkan bahwa kita harus menaati pemimpin dan kapan kita menaati dan tidak menaati perintahnya.
Pemimpin, yaitu orang yang mengepalai berbagai elemen masyarakat. Baik keagamaan, organisasi, masyarakat atau bangsa. Pemimpin punya kebijakan dan peraturan sendiri yang bertujuan menciptakan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera.
Kita wajib menaati peraturan pemimpin, baik itu disenangi, (bermanfaat bagi kita) atau tidak disenangi (kita tidak dapat kemanfaatanya), mungkin orang lain yang melakukannya. Batas kewajiban menaati kewajiban, yaitu selama tidak melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kewajiban taat tadi, gugur.
Dalam hadist Nabi :
Siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah. ‘Siapa yang durhaka kepadaku, maka ia berarti durhaka kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada Amir (pemimpin), berarti ia taat kepadaku. Siapa yang durhaka kepada Amir, berarti ia durhaka kepadaku.’
***
Apabila suatu kesatuan yang dipimpin oleh seorang pemimpin dalam keadaan gawat, dan pemimpin tersebut menyuruh agar umatnya mempertahankan dan berkorban demi itu, maka harus ditaati. Begitu juga dengan masalah lain yang itu baik dilakukan, maka mereka menganggap itu baik dan tentunya itu juga baik di sisih Allah.
Jika kebijakan pemimpin tidak diikuti dengan kepatuhan terhadapnya, hal itu menandakan hilangnya tanggung jawab umat terhadap negaranya. Maka, tak butuh waktu lama, negara akan mengalami kemunduran atau keruntuhan. Diperbolehkan tidak taat kepada kebijakan kepada selama kebijakan itu menyimpang hukum Allah. Jadi, batasannya selama tidak menyuruh dalam kemaksiatan.
“Planning kamu besok, mau ngelanjutin ke mana, De?” tanya Dara disuatu ketika di kantin sekolah.
“Eeee, belum tahu. Dar, kayaknya sudah tak ada harapan lagi buat ngelanjutin sekolah…..,” jawab Dea, siswi SMP kelas tiga dengan nada serius.
“Haa, kok bisa! Setidaknya kamu udah ngomong kan sama ortu?’ Dara tercekat dengan jawaban sobat karibnya itu. Lama Dea bergeming, tak sampai hati jika sahabat karibnya mendengarkan ucapan duka akan perpisahan mereka untuk selamanya.
“De, kenapa? Ada apa gerangan. Ehm, kamu lagi punya problem, ya? Please deh, jangan disimpan sendiri, bicara aja ma aku, mungkin bisa ngebantu ,”
Namun, Dea tetap bergeming, mulutnya susah sekali diucapkan. “Kumohon kamu tidak perih mendengarkan pernyataanku ini, Dar,” Susana yang tadinya ramai, kini menjadi sepi dipenuhi kekhawatiran di hati Dara.
“Sebenarnya, ini bukan keinginanku, atau bahkan cita-citaku. Aku akan membantu Ibu menjahit di rumah saja, Dar. Dan, sebelum itu, aku harus kursus jahit dulu sama Ibu……….,”
Belum selesai Dea ngomong, Dara memutus pembicaraan ,”Apa? Darimana kamu mendapatkan keinginan buruk itu, dan bagaimana buat masa depanmu nanti? Lihat De, teman-teman kita yang ada di kolong jembatan, dipinggir jalan, di perempatan jalan, mereka mencoba terus merajut mimpinya supaya bisa memakai seragam sekolah, terus duduk masnis mendengarkan Pak Guru dan Bu Guru menjelaskan pelajaran di sekolah,” ucap Dara penuh perhatian pada Dea.
“Sudahlah Dar, kamu…,” teeet, teeet, teeet, tiba-tiba bel masuk menjerit. Dea dan Dara bersama-sama siswa yang lain berhamburan masuk ke dalam kelasnya msaing-masing.
***
Mulai saat itu, ada yang berubah di antara persaudaraan Dea dan Dara. Berkali-kali Dara mengalihkan topik pembicaraan mereka, namun Dea selalu diam, jika ditanya kenapa,? Baru gakenak badan, selalu saja Dea menjawab, nggak apa-apa kok.
Usut punya usut. Kerena tak ada perubahan di antara mereka, Dara ingin tahu secara langsung ada apa gerangan yang terjadi dalam diri Dea. Mungkin saja bias mengurangi sikap Dea akhir-akhir ini yang membuat persaudaraan mereka renggang.
Di saat pagi yang cerah. Mula-mula sang surya memberikan hangatnya semangat menyongsong esok yang cerah dari ufuk timur. Tampak seorang siswi dengan muka lusuh berjalan gontai di trotoar sekolah. Sementara itu, dari belakang tiba-tiba ada temannya mengejar.
“De, good morning. Tumben De, berangkatnya kok pagi-pagi amat. Biasanya kita kan kita kompak dan langganan telat. Sampi-sampai Pak Wito, si Pak Satpam itu lelah menghukum kita,” sapa Dara dengan dengusan yang masih terengah-engah, habis lari kencang.
Dea yang tadinya kaget, langsung saja kembali ke tatapan semula. Lurus kedepan, ”Pagi….,’
Tampaknya seisi sekolah baru saja dihebohkan dengan suatu hal yang kelihatannya baru saja ditempel di papan pengumuman.
Di sana terpampag untaian kata-kata. ’Bagi para siswa kelas III yang namanya tercantum dalam tabel di atas, diharapkan secepatnya melunasi tanggungan SPP, sebelum perpisahan'.
Glek….., seolah-olah syaraf tenggorokan Dea tergelak oleh pengumuman itu. Dengan teliti, Dea mengurutkan gerak matanya dari atas ke bawah. Tubuhnya panas, dicampur kekhawatiran. Matanya mendelik ke arah tabel yang bawah sendiri. Di situlah nama Dea tercantum, Dea Ayu Ningsih.
Melihat temannya yangtak kondisional. Dara mengayunkan langkah ke belakang sambil menggandeng lengannya menuju bangku taman sekolah.
Wajah Dea kembali kuyu, seperti tak punyA semangat, bak bunga mawar yang lama tak diairi.
Dara bingung mau bicara apa, jika nanti keceplosan nyakitin hati Dea.
“Kamu lagi bingung ya, De. Eeeeee, aku turut sedih merasakan apa yang kamu rasakan saat ini,” mula-mula Dara membuka pembicaraan.
Mutiara bening mulai meleleh dari kedua kelopak mata Dea. Menetes dan jatuh ke lembah pipi Dea yang coklat.
“Dar, jadi putri cantik yang kaya seperti kamu , enak ya? Semuanya apa saja keturutan. Beda denganku. Entahlah, karena Tuhan nggak adil ma aku atau nasibku yang mlang ini………..,” ucap Dea sambil mengusap air maanya.
“Hus, gak baik berkata seperti itu, De,”
“Baik kamu dan aku, sama saja kan kodratnya? Kamu terlahir seperti halnya manusia biasa, dan aku pun juga manusia biasa. Rezeki atau yang lainnya itu hanya titipan Tuhan. Dan, tergantung pada diri kita saja, bagaimana usaha mendapatkan nya,” nasehat Dara. Sebenarnya Dara tak tega berkata seperti itu.
“Iyakan? Kamu Dar, memang beruntung sekali punya Ayah dan Ibu yang seperti itu. Sedangkan aku… Aku hanya orang miskin yang yatim,” bantah Dea. Mulutnya sudah keceplosan mengatakan apa yang ia rasakan saati ini. Sudah tak bisa ditahan lagi.
“Sudahlah De, aku nggak mau mengerti, apa nasibku yang mujur atau tidak, itu hanya sementara kaliiiiiii, bisasaja satu tahun ke depan nasibku berbalik seperti kamu. Jika kita berusaha dan berikhtiar, bisa saja nasib kita dapat berubah menjadi lebih baik.” Dara langsung memeluk sobatnya yang ternyata masih setia padanya.
Dalam dekapan penuh kasih sayang, Dea bersyukur punya sahabat yang baik seperti Dara. “Sungguh Agung ciptan-Mu Tuhan, meng-ada-kan insan yang mulia hatinya, seperti Dara,” puji Dea.
Dengan berbincangdengan Dea, setidaknya Dara sudah mengerti lebih dulu, kenapa ia akhir-akhir ini berubah? Walapun Dara pun untuk sementara waktu, Ia belum tahu betul solusinya.
Ia tahu bahwa Dea sedang bingung mencari uang untuk membiayai semua tanggungan Dea yang disebutkan di tabel sekolah tadi.
***
Perpisahan sekolah tinggal dua hari lagi. Dara, dan siswa yang lainnya mulai deg-degan dicampur sedih, duka, cita, senang dan masih banyak lagi perasaan yang mereka rasakan. Namun, lain dengan Dara. TampaknyaIA sedang memikirkan bagaimana caranya membantu Dea.
“Kamu tak harus mengeluarkan seluruh uang di dompetmu. Bisa saja dengan cara lain kan? Kenapa tidak, misalnya dengan melakukan solidaritas, mengumpulkan iuran dari teman-temanmu,” usul Pak Gino, Guru BP dengan bijaksana, saat Dara meminta masukan dari Pak Gino.
Dara hanya mengangguk dalam artian faham.
“Terus, nanti akan kalau bisa, Bapak usahakan untuk mengajukan permohonan dana kepada kepala sekolah untuk siswa yang kurang mampu dalam ajaran akhir tahun ini,”
“Terima kasih banyak , Pak,” kata Dara.
Dara merasa itulah cara yang tepat di saat kondisi seperti ini. Tanpa diketahui Dea, Dara langsung memulai inisiatifnya. Mula-mula ia berorasi di depan kelas, “Asalamualakum, teman-teman, saya mohon perhatiannya untuk memberikan waktu untuk saya bicara sebentar di depan kelas,”
Seketika anak-anak yang pada rame, diam. Sepertinya mereka sangat menghargai Dara yang terkenal dengan murah hatinya itu.
“Teman-temanku, ini, langsung saja, tanpa kita ketahui dan sadari, salah satu dari teman kita yang tidak mampu sedang mengalami kesusahan untuk membiayai tanggungan diakgir tahun ajaran sekarang. So, saya mohon uluran tangan teman-teman untuk memberikan sepeser uang sakunya dengan seikhlas untuk solidaritas kita kepada teman kita tadi,” demikian kata Dara dengan lembutnya.
Karena anak-anak merasa duka atas pernyataan Dara, mereka lansung memberikan bantuannya. Mereka sudah yakin dengan apa yang dikatakan Dara barusan. Dan, mereka yakin jika teman yang sedang kesusahan tersebut benar-benar mengalami kesusahan.
Tidak hanya di kelasnya saja. Di kelas lain pun Dara menerangkan akan hal yang penting tersebut. Hasilnya sangat memuaskan, hampir semuanya mau merngerti dan kembali memeberikan sumbangannya.
***
Malamnya, Dara mengatakan semua penjelasan tentang aksi solidaritasnya tadi siang di sekolah.
Dengan bangga, Ibu Dara berkata, “Bagus itu, Nak. Ternyata kamu sudah bisa menkonkretkan sikap tengang rasa pada teman yang sedang membutuhkan uluran tangan.”
“Nah, terus bagaimana denganmu, Nak?” tanya Ibu Dara yang sedang menemani Ayah habis pulang dari kerja.
“Itu dia, Bu. Dara ingin meminta izin pada Ibu dan Bapak untuk mengambil sebagian uang tabungan Dara di Bank,” kata Dara lirih.
“Untuk teman boleh yang penting benar dan bukan untuk kepentingan sendiri, awas ya,” ucap Ibu memperingatkan dengan sesdikit bercanda. Ayah dan Ibu pun mengangguk. Itu atinya mereka mempersilahkan.
***
Saat-saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tinggal menghitung dengan jari, berapa jam lagi.
Di saat duka dan suka cita dilakukan bersama, kinitelah datang waktunya untuk cberpisah. Dea masih dalam kekhawatir, jika nantinya ia tidak boleh meniggalkan sekolah dan akan dituntut, karena bunya sedang tidak punya sepeser uang pun dari hasil kerjanya menjahit, mungkin sedang kosong
“Ti, ini titipan ucapan selamat, dan atas semua siswa yag lulus dengan tanpa biaya apapun. karena kekurangannya sudah terbayarkan oleh uang kumpulan siswa kelas tiga,” bisik Dara pada Eti yang akan jadi MC diacara perpisahan nanti.
Dara sengaja duduk bersampingan dengan Dea. Mereka hanya sebentar ngobrol, lalu khusuk mengikuti jalannya acara perpisahan.
Acaranya berlangsung meriah, banyak hiburan yang ditampilkan anak kelas tiga sendiri. Dan, tibalah pada acara sambutan. sambutan pertama kali, adalah Bapak Gino, sebagai Guru BP.
Ditengah pidatonya, beliau berkata, “……dan kamimemberikan beasiswa bagi yang membutuhkan, yaitu ada satu orang dari kelas 3C, kami ucapkan selamata kepadanya…….,”
Mendengar penjelasan dari Pak Gino tadi, Dea menjadi setengah tak percaya.
“Selamat, yaaa…………..,” ucapan Dara turut senang sambil mengulurkan tangan.
“Ooooooo…, ini pasti kamu kan yang rencanain. Makasih banget ya, Aku nggak tahu harus bagaimana membalas budimu?” kata Dea. Sekali lagi, ia merasa beruntung sekali punya teman sebaik Dea yang pengertian.
Dari atas pangung. Eti, sang MC berkata, “Kami dari kelas tiga pun setuju untuk memberikannya bebrapa uanguntuk meringankanya,”
Spontan, Dea tambah girang. Tak salah lagi, ini semua strateginya Dara.
Uang itu langung digunakan Dara untuk melunasi tanggungannya.
Sambutan-sambutan telah diakhri oleh Bapak Adnan, kepala sekolah. Disela-sela pidatonya, beliau memberi tahukan tentag sesuatu hal yang tampaknya sangat penting, “Mari kita dorong terus-menerus putra-putri kita, supaya semangat beajar hingga pendidikan yang setinggi-tingginya setingi-ringginya. Untuk masalah dananya tak perlu kuatir, karena pemerintah sudah berjanji dalam UUD 1945 pasal 31 yang bunyinya kurang lebih begini, ayat 1: ‘Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan’. Ayat 2: ‘Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiyainya’.
***
Satu bulan kemudian, Dara dan Dea diterima di SMA favorit yang sama. Walapun jauh, namun Dara yang baik hati bersedia membonceng Dea. Tak jarang pula Dea yang bergantian membonceng Dara.
Namun, sepertinya ada pihak yang diberatkan. Dengan sekolahnya Dea di SMA favorit yang biayaanya lumayan mahal itu, membuat kelarga Dea harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Lalu, bagaimana tentang UUD 1945 tentang pendidikan pasal 31 itu? Ternyata, tidak ada apa-apanya bagi Dea. Walapun mereka sudah sering bertanya akan hal itu pada sekolah dan pengumuman, namun hasilnya selalu nihil. Apa boleh buat semua harus ditanggung keluaga Dea sendiri, tanpa bantuan pihak lain.
***
Pada suatu saat, Dara dan Dea berangkat sekolah melewati kampung yang memisahkan kota mereka dengan kota lain tempat sekolah mereka. Udara di kampung sangat sejuk, begitu pula pemandangannya, sangat asri. Sreeeeeeep, udaranya cocok buat terapi kesehatan. Dari pada di kota yang bising dan kumuh itu.
Tiba-tiba saja ada sesuatu padangan yang bagi Dea tak kuasa Ia melihatnya. Ia reflek saja lihat seorang bocah permapuan, mungkinberumuran dua belas tahunan tampaknya sedang menimba sumur. Dalam Dea bertanya pad adirinya sendiri, “Mengapa ia tidak sekolah?”
“Ada apa, De?” Tanya Dara seketika melihat temannya yang aneh.
Dea tak sadarkan diri dan terus memandangi bocah tadi dengan iba.
Sesampainya disekolah, Dea menceritakan semua kejadian selama di perjalanan. Ya, Dara Cuma berpendapat , bahwa manusia itu bermacam-macam. MASih banyak lagi orang-orang kampung yng milih kerja ari pada belajar di sekolah, bisa saja itu sudah menjadi tradisi nenka moyang yang tak pernah mengajarkan mereka belajar setinggi-tingginya.
***
Pada hari yang kedua, Dara gantian yang lihat bocah yang dimaksud Dea kemarin. Kbeletulan hatri itu gantian Dea yang boncengin jadi nggak sempat lihat lagi yan ia lihat kemarin.
Begitu melihat bocah itu, ia tak menyangka. MengapaIA tidak sekolah? Dan, ketika Dara melongok ke bocah tadi, sepertinya bocah itu juga melihat diri Dara dengan pandanganang tak jauh dari lamunannya. Mungkin bocah itu melamuan apa, ketika melihat diri Dara yang rapi dan anggun dengan pakaian seragamnya itu.
“Betulak, aku nggak slah lagi. Kasihan sekali Ia. Siapa sih orang tuanya, pastinya tidak punya hati pada ananknya yang jelas-jelas pingin sekolah itu. Dasar……….,” Dea mencak-mencak
“Sudah-sudah nggak usah dipikirkan, nggak baik ngomong tenrtahg orang lain yang kita sendiri belum tahu kebenarannya,” nasehat Dara masih berfikir tentang bocah tadi.
“Gini aja bagaimana kalu kita besok datangain ke rumahnya. Terus kita tanyain semuanya, setuju?” tanya Dara memeneri usul.
“Ehm…..,” jawab Dea singkat.
***
Esok yang cerah tak sam dengan kondisi makhluk dimuka bumi. Sepertinya masnuisa masih bermalas-malasan bangun dan bekerja, dan masih enak-enakan di alam mimpi. Eh emangnya hari apa sekarang? iya, sekarangkan hari minggu.
Sesuai dengan janji Dara mendatangi Dea dengan maksud yang merka bicarakan kemarin di sekolah.
“Ngapain kalian ke sini? Bukannya kalian sekolah,”tanya bocah tadi dengan beringas.
Muka Dara dan Dea menjadi dingin. Mereka maklum, katanya bocah itu mengalami trauma besar sewaktu SD-nya. “Nggak kok Dek, hari ini kan minggu jadi sekolah kami libur, kami cuma mau bilang sebentar. Mulai kapan adek putus sekolah, dan karena apa?” Tanya Dara dengan lagak detektif.
“Sudah lama, kok. Satu tahun lalu, karena ayah meninggal dan kebutuhan kami yang tak sedikit. Maka, saya memutuskan untuk mogol sekolah,” suara bocah itu mulai pelan.
“Oh ya, sapa nama adik?” kembali Dara bertanya.
“Minah………..,” jawab bocah yang bernama Minah itu ketus. Anaknya baik, sopan, lugu, dan enak di ajak ngobrol.
“Mbak, silahkakn diminum, saya mau tinggal sebentar ke pasar,” sapa Ibu Minah.
Teh panas yang ada di depan Dara dan Dea mulai dingin. Tak bermaksud puasa, cuma mereka yang sungkan aja, nggak di minum.
“Terus, sebenarnya Adek masih mau sekolah nggak, menurut Adek, lho?” lanjut Dea berbincang dengan Minah yang tampaknya mulai akrab.
“Sebenarnya saya masih ingin. Namun, sudah tak ada harapan lagi. Dan, kata emak, sebentar lagi Ia mau mendonorkan ginjalnya kepada seseorang yang kaya, buat biaya sekolah,” kataMinah terus terang.
“Ya Tuhan, apa benar yang dilakukan emakmu itu?” kata Dara tergagap dengan pernyataan Minah yang ini. Minah pun mengangguk.
Kok ada manusia seperti Minah di dunia ini masih sabar dengan segala penderitaan ini, Ya Tuhan? Ternyata di balik kesusahan yang dialami Dea masih banyak insan lain yang jauh lebih menderita.
***
Berkali-kali Dara dan Dea bertanya kepada Guru Kewarganegaraan yangbaru yaitu Bapak Ali, kenapa yang tertera dalam pasal 31 UUD 1945 tidak dimiliki pada seorang bocah bernama Minah itu?
***
Ujung-ujungnya, tak ada badan pmerintah satu pun yang meringankan penderitaan Minah ini. Menurut kabar burung yang Dara dan Dea terima akhir-akhir ini, Minah kembali sekolah. Ia masuk SMP dengan biaya emaknya yang suduah dioprasi Donor ginjal.
Meski hanya tinggal satu buah ginjal saja di tubuh Ibunya Minah, namun usia yang tak muda muali menggerogoti badan Ibunya Minah. Beliau sekarang sering sakit-sakitan. Penderitaan yan gtaka daujungnya, malah semakin bertambah.
Terus, kalau begini, darimana Minah dan Ibunya dapat uang lagi untuk biaya berobat?
Sampaikan pertanyaanku pada mahkluk langit nan anggun.
***
“Tahu…tahu, yang tahu, yang tahu, asin-asin,”
“Kacang…., kacang manis, Om.Lima ratusan,”
“Aqua, sprit, dan teh sosro, masih dingin…,seger…seger. Mas teh, Mas?” semuanya membisu, seakan-akan tak peduli bunyi apa para pedagang asongan itu. Paling-paling hanya beberapa saja yang membeli, bisa dihitung dengan jari.
“Mana sih? Kok gak nongol-nongol juga tuh bocah. Biasanya, bus ini yang menjadi langganannya untuk ngamen. Keburu basi, nih.”
Jam tangan menunjukkan pukul 13.00 siang lebih dikit. Sudah seperempat jam sejak pukul 12.45, tubuh ini duduk manis dalam bus. Akhirnya bus pun berangkat.
Huh, desakan demi desakan kurasakan dari para penumpang. Namun yang lebih penting…
Jreng-jreng-jreng….. Wakil rakyat seharusnya merakyat……..
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat……..
Wakil rakyat seharusnya merakyat……..
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat……..
Lagu Iwan Fals itu terasa menghibur hati ini yang ikut-ikutan sumpek. Sayangnya, suara yang seharusnya merdu itu dinyanyikan oleh bocah yang suaranya cempreng. Ups, tunggu. Sepertinya aku kenal dengan suara itu.
“Ooom seikhlasnya, Ooom.” Suara itu semakin mendekat dan mendekat.
“Sssst.” Tak kusadari, tanganku menarik bocah yang kutunggu-tunggu.
“Duduk sini, gih.” Kupersilahlakan ia duduk di sampingku.
Kutatapi kedua bola matanya yang sipit. Aku masukkan uang ke dalam kantong kopiko-nya. Tak sadar mataku tertuju pada kaki kanannya yang lumpuh karena korban tabrak lari. Walaupun begitu, yang tampak dari seorang Amir bukanlah sebuah penyesalan atau pun keputusasaan atas semua penderitaan ini, namun ia justru bersyukur karena masih ada kaki satunya lagi. Pernah ia berkata, ”Gak papa kok Mas, yang penting kan masih ada kaki satu lagi.” Luar biasa…….
“Wuih, banyak banget uangnya. Bener, nih buat aku?” bocah kecil itu bersorak-sorak senang. Hati ini pun ikut senang. Kuseret tangannya agar dia mau duduk.
“Mas Ahmad, aku kan harus turun. Kalo gak, nanti habis dimarahi Pak Kenek,” kata anak yang kira-kira berumur dua belas tahunan itu khawatir. “Sudah, gak usah khawatir, beres bos, aku yang tanggung, deh,”
“Bagaimana, Mir. Apakah kamu sudah menemui saksi, ataupun apaplah yang ngebuktiin kalo kamu nggak salah,” tanyaku serius.
Ia hanya geleng-geleng kepala. Wajahnya kembali murung, pucat, kusut, bak baju basah yang baru diperas. Aku merasa sangat payah sekali. Aku yang sempurna jasmani dan punya akal gini sering ngeluh, malas-malasan, apalagi bersyukur, ingat sama anugerah Allah swt. saja tak pernah terlintas dalam benakku. Namun, bagaimana dengan Amir? Ya Allah, subhanalah, ia hanya mempunyai satu kaki dan satu tongkat untuk menyangga tubuhnya. Tak sampaidi situ, musibah yang lebih memilukan lagi baginya adalah ketika harus ditinggalkan oleh sang Ibu tercinta untuk selamanya, lantaran serangan jantung. Semenjak itulah ia juga harus berpisah dengan sang Ayah. Ayahnya merantau mencari kerja. Namun, hinggga kini, Ayahnya masih terus mengirimi uang padanya sebulan sekali. Sebelum Ayahnya pergi, Amir diberitahu, bahwa ia akan hidup bersama Nenek Lastri.
Pernah suatu saat Amir mengirim surat kepada sang Ayah, bahwasannya ia sangat merindukan wajah Ayah sekarang dan kangen akan pelukan Ayah. Namun, ayahnya justru menolak seraya berkata, ”Suatu saat nanti mereka pasti akan dibertemukan oleh waktu.”
“Trus……? Berarti kamu menerima hukumannya nanti?” tanyaku mengintrogasi.
“Mungkin itu Mas, yangmemang aku dapatkan,” jawabnya polos.
“Hus, jangan berpikiran cetek kamu. Jika dipenjara seminggu, dua minggu, sih gak masalah, bakal aku belikan fried chicken nanti setiap harinya kalo kamu mau. Tapi ini masalahnya besar. Kamu dituduh suatu masalah yang besar. Bisa berpuluh-puluh tahun kamu di penjara,” kataku dengan nada memarahinya. Amir hanya tertunduk lesu. Tatapanya kosong, tak mengerti apa-apa.
“Maaf, Mir…,”
Otakku berfikir…, terus berputar bagaimana caranya menyelamatkjan Amir dari terali besi.
Sungguh tego-menolo orang-orang yang telah membobol uang bank itu. Terus tanpa merasa bersalah mengasihkan kantong wadah uang bobolan itu ke tangan Amir. Ia tak tahu apa-apa. Yang ia lihat, sekelompok pemuda berlari kencang hingga bayangannya hilang di tikungan. Pada saat itulah, dirinya hampir menjadi bulanan massa. Untung saja Pak Polisi datang dan langsung mengamankan Amir. Atas penjelasan panjang lebar dari Pak Polisi, Amir pun kini mengerti. Keadaan yang sebenarnya adalah ia dinyatakan sebagai pelaku utama pembobolan bank daerah sebesar 1,5 milyar. Wow, angka yang tak main-main.
“Turun, yuk,” ajakku.
“Mau ke mana sih, Mas? Tumben kok ngajak aku jalan-jalan,”
“Sudah, ikut saja,”
Huh, lumayan, di luar bisa bebas menghirup udara bebas. Sumpek sih, gak terlalu di dalam bus. Namun, sedari tadi di perjalanan banyak penumpang yang naik-turun.
Tiba-tiba Amir menyeret tanganku dengan wajah pucat pasi. Ada tanda ketakutan tersirat di balik wajahnya yang bundar. Dengan alat penyangga tubuhnya itu ia ingin lari.
“Heh, Mir, kok lari? Sini aku jelasin, kita nih akan mencari keadilan buat menyelamatkan kamu di kantor polisi ini. Ayahku punya kenalan di sana, namanya Pak Harjo. Gak ada salahnya kan kita mencoba?” jelasku pada Amir.
“Mas, aku nggak mau. Yang aku tahu dari Pak Polisi Mas, mereka itu ganas seperti singa. Kemarin aku saja dituduh yang enggak-enggak. Udah mas, udah…,” ucap Amir khawatir.
“Ooooo” aku ber-ooo panjang. Lalu kubalas dengan seulas senyuman, sekiranya ia mengerti. “Mir, asalkan kita berusaha semaksimal mungkin, sekuat tenaga yang kita miliki, insya Allah, Allah pun akan memberikan jalan petunjuk menuju keadilan bagi kita. Ingat, Allah itu Mahaadil dan Maha Penyayang pada setiap makhluknya, tul gak?” Wuih, tumben aku bisa lancar ceramah gini, habis kesamber malaikat dari mana sih tadi? Amir hanya tersenyum, menampakkan giginya yang gigis. Hmmm, aku pun menjadi lebih senang, ia bisa mengerti maksudku.
***
“Ada yang bisa kami bantu, Dik,” sapa Pak Polisi yang sedang berjaga-jaga di depan kantior Polisi sekitar (Polsek).
“Eee, Maaf Pak, kami ingin bertemu dengan Pak Harja, ada Pak?” kutengok di belakang. Amir masih membuntut dibelakang, raut wajahnya masih menandakan ketakutan.
Pak polisi itu langsung menunjukkan kami, mungkin ke tempat orang yang kami maksud tadi. Di sepanjang lereng kantor polisi,aku melihat orang-orang yang ada di balik jeruji besi. Tergambar betapa ganasnya kehidupan di dalamnya. Andaikan saja Amir…, hah jangan sampai.
“Masuk!” terdengar suara dari dalam.
“Selamat siang, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Bapak,” kata Pak Polisi itu.
“Oooo, Nak Ahmad…, mau apa, Nak. Bagaimana kabar ayah dan ibu? Baik-baik saja kan? Silahkan masuk,” sambut Pak Polisi yang bernama Pak Harjo. Walaupun orangnya mempunmyai berengos dan jenggot tebal, tapi kenyataannya dia baik, kok. Tapi, ketika aku tengok ke belakang, lagi-lagi Amir masih merindingalias takut.
Kujelaskan semuanya panjang lebar, sejak awal sampai akhir, dari A-Z maksud kedatangan kami.
“Mohonlah, Pak. Dia ini kan masih kecil, Pak. Sewaktu SD-nya, Dia tidak kecipratan isi UUD `45 tentang Pendidikan dari pasal satu sampai lima. Dia ini korban ketelantaran negara, Pak.” Semoga saja dengan permohonanku ini akan membuahkan hasil, Ya Allah, Yang Mahaadil.
Namun, akhirnya Pak Harjo berkata, ”Maaf, Nak Ahmad, kita ini sekarang sedanghidup di negara hukum. Sejak bangsa ini merdeka pun, hukumlah yang menjadi asas kita bersama sampai saat ini. Ya, mau tak mau, kita harus mematuhi peraturan hukum yang ada. Jika ada bukti atau saksi yang bisa menguatkan bahwa nak Amir ini tidak bersalah, mungkin saya bisa membantu untuk membebaskan nak Amir,” jelas Pak Harjo.
Hasilnya nihil. Kami pun permisi.
Kasihan Amir.
“Mir, hadapi dengan tegar, ya. Berdoalah pada Allah Yang Maha Segalanmya. Jangan ragu-ragu atas kekuasaannya. Sekali lagi maaf, Mir.”
***
Waktu terus berlau, tak pandang bulu, orang sepenting apakah dan segenting apakah kondisinya, waktu tetaplah menjadi suatu hal yang kodrat.
Kini, sudah lama aku tak bertemu si anak yang sehari-harinya bermandikan peluh keringat di terminal guna mencari nafkah bagi dirinya dan neneknya. Kudatangi berulang-ulang terminal itu, tapi sama saja. Batang hidungnya tak kelihatan di sana.
“Oh, ya bagaimana jika kudatani rumahnya. Mungkin dia masih trauma sama Pak polisi, he..he..he…” batinku.
Sesampainya di rumah Amir, tampak nenek Amir termenung di pekarangan rumah. wajahnya bermasam durja, sepertinya ia sedang merenungkan sesuatu yang kini membebani hidupnya.
“Asslamualaikum. Amirnya ada, Nek,” salamku.
“Oooh, Nak Ahmad, silahkan duduk sini,” kata nenek sambil mengusap kedua matanya. Ia menangis.
“Nak Ahmad belum tahu tho kabar tentang Amir sekarang?” tanya nenek padaku.
“Belum, nek,” jawabku. Kiranya jawabanku ini bisa membuat nenek menjelaskan apa yang telah terjadi pada Amir.
“Amir sudah tak disini lagi. Ia kini tinggal bersama Pak Polisi,”
“Artinya, ia dipenjara…………..,” tangisku pecah. Tak kusangka.
Bagiku, sungguh tega ‘manusia-manusia‘ itu, memasukkan Amir ke penjara.
Sekarang, bagaimana perasaan hati nenek Amir dan harus dengan cara apa dia mendapatkan penghasilan? Lebih dari itu, apakah hukum di negara ini layaknya orang yang bodoh yang mau disuruh-suruh ini-itu, dipermainkan?
Inikah keadilan………?
Dalam kengkangan, aku bingung, mencari keadilan yang sejati.
Mungkin sudah akrab di telinga kita. Tapi, mungkin diantara kita masih ada yang masih belum paham apa internet itu. Oleh karena itu pada kesempatan ini, akan kita bahas sekilas tentang internet dan intranet.
Internet merupakan singkatan dari interconnected network. Yang maksudnya adalah sekumpulan computer yang saling terhubung satu dengan yang lainnya dalam sebuah jaringan. Karena computer yang satu dengan yang lain saling terhubung maka computer-komputer tersebut bias saling tukar-menukar data.
Perbedaan antara internet dengan intranet adalah kalau internet cakupannya sangat luas bias menjangkau seluruh dunia, sedangkan intranet cakupannya lebih kecil, seperti di dalam perkantoran, gedung, ataupun sekolahan.
Internet memegang peranan sangat penting bagi kemajuan tehnologi, yaitu: (1). Internet menjadi sumber data dan informasi, (2) sebagai sarana untuk berkomunikasi.
Internet menjadi salah satu pemicu globalisasi, karena dengan internet seolah-olah batas jarak dan waktu tidak ada. Melalui internet sesorang dapat berkomunikasi dengan orang alin tanpa dibatasi oleh batas-batas Negara, hukum atau birokrasi Negara maupun jarak dan waktu.
Aplikasi Internet
Aplikasi internet adalah perangkat lunak yang digunakan dalam dunia maya (Internet). Aplikasi-aplikasi tersebut berkembang dan terus bertambah dari waktu ke waktu. Ada bebrapa program aplikasi internet yang sering digunakan. Diantaranya:
a.WWW (World Wide Web)
Adalah program aplikasi yang paling banyak digunakan dalam dunia internet. www adalah dokumen-dokumen yang tersipam di server-server yang terdapat di seluruh dunia. Dokumen tersebut disimpan dalam bentuk HTML (Hipertext markup language). HTML mempunyai kemampuan untuk menghubungkan (Link) dokumen satu dengan dokumen yang lain.
b.Electonic Mail (E-Mail)
Aplikasi Internet untuk surat-menyurat dalam bentuk elektronik. Dengan email seseorang dapat mengirim surat dengan cepat dan baiya murah.
c.Mailing list
Mailng list hamper sama dengan email, namun dengan milist seseorang dapat mengirimkan email secara sekaligus kepada email yang tergabung dalam milis. Sehingga sering dimanfaatkan untuk sarana diskusi kelompok melalui internet.
d.Newsgroup
Newsgroup merupakan aplikasi internet untuk berkomunikasi satu sama lain dalam sebuah forum. Newsgruop merupakan belettin board dalam bentuk elektronik dan menjadi sarana seseorang untukmemaparkan pendapatnya kemudian dibaca oleh orang lain.
e.Internet Relay Chat
Internet Relay Chat adalah aplikasi internet untuk bercakap-cakap seseorang dengan orang lain. Melalu Internet Relay Chat seseorang bias bercakap-cakap melalui tulisan, suara ataupun gambar dengan webcam.
f.File transfer Protocol
File transfer Protocol adlah aplikasi internet untuk mengirim dan mengambil file dari computer lain. Di dalam dunia internet pengambilan file disebut dengan istilah Download, sedangkan pengiriman file dikenal dengan istilah Upload.
g.Telnet
Telnet adlah apliaksi internet untuk mengakses computer yang jaraknya sangat jauh. Untuk mengakses computer lain maka kita harus mempunyai alamat IP (IP Addres) dan Hak akses (User ID dan Password)
h.Ghoper
Ghoper adalah aplikasi internet yang berfungsi untuk mencari informasi di internet dalam bentuk teks.
i.Ping
Ping Adalah kependekan dari Pocket Internet gopher. Ping berfungsi untuk mendeteksi apakah computer terhubung dalam sebaug jaringan aatu tidak.
Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan, kegunaan internet adalah
Sarana mendapatkan dan menyampaikan infornmasi denga cepat dan murah.
“Gooooooooool…!” Jerit Andi dengan suaranya yang memekakan telinga. Ia menyambut kawannya, Fadli yang telah berhasil memasukan bola ke gawang Didi.
“Gimana sihkamu Di? Bisa nangkap bola nggak? Kalo gak bisa ditabrak aja,” olok Gatot. Orang yang dimarahi itu hanya diam, dia sendiri pun juga tidak setuju dengan permainan Gatot yang egois sendiri.
Dua tim sepak bola sedang bertanding dengan serunya. Sepanjang jalanya pertandingan, kedua tim tidak mau mengalah, bahkan sering terjadi pelangagaran, karena kedua tim yang merasa dirugikan dan tidak terima. Bola digiring, diumpan, dan ditendang, begitu seterusnya.
“Priiit…priiit…priiiiiit…,” Anton meniupkan peluit panjang tanda pertandingan usai.
Bola pun ditendang keluar lapangan. Fadli, Andi, Anang, dan teman-temanya hendak berjabat tangan Gatot dan teman-temannya.
“Hah, waktu habis!” kesal Gatot. Dalam batinnya ada perasaan tidak terima atas nasib timnya yang kalah tipis dari timnya Fadli, 4-3.
“Sudah Tot, terima saja kekalahan kita, mungkin menang bukan nasib kita saat ini,” kata Indra memberi nasihat pada Gatot.
Gatot semakin gusar sendiri. Dalam permainan itu, Ia berusaha tampil ngotot sekali. Skil individualitas ia tampilkan untuk menjadi jenderal lapangan. Namun, sayangnya Gatot kurang mempunyai rasa kerja sama pada timnya.
“Cuih, awas kamu, ini belum berakhir, masih ada leg kedua,” kata Gatot. Fadli dan teman-temanya tidak tahu apa yang dimaksud dengan perkataan Gatot tadi.
Mereka langsung pergi meninggalkan lapangan, sesaat hilang ditelan pepohonan rindang yang besar. Disekitar lapangan.
***
Selamanya kekalahan atas timn yang selalu menang dalam setiap pertandingan, tidak akan pernah dilupakan oleh pemin-pemainya. Bagi Gatot, Kekalahan harus dibalas dengan kemenangan yang mutlak. Pertandingan demi pertandingan yang pernah dijalani Singa Hutan, julukan kesebelasan Gatot tak pernah kalah, kalaupun seri, mereka akan membalas dengan angka mutlak diperjumpaan yang akan datang.
“Mereka harus diberi pelajaran,” putus Gatot.
“Siapa, Tot,” tanya Didi.
“Fadli dan anak buahnya. Tunggu saja,” awas Gatot.
Gatot pergi menuju kelasnya. Sepertinya ia menulis sesuatu dan menggambar tanda menantang di atas kertas sobekan itu.
Dia terus berjalan menyusuri koridor sekolah yang tampak ramai. Tangannya mengepal, mukanya merah, dan sorot matanya tajam, bak petinju memasuki ring tinju.
Suasana kelas Fadli sepi, biasanya mereka istirahat langsung ke kantin sekolah. Gatot mendobrak meja Fadli hingga berantarakan. Surat tantangan itu diletakkanya diatas meja.
Selesai sudah siasat yang telah Gatot susun. Kini, tinggal menungu tindakan Fadli, di sana tertulis kata di bawah kertas; ‘Kalo lo nggak mau dikatakan pengecut, terima tantangan ini.’
***
Selesai membaca surat itu, Fadli menaggapinya dengan kepala dingin. Walaupun itu surat kaleng yang tak ditulis nama pengirimnya, Fadli bisa menebak siapakah pengirimnya..
Sementara itu, Gatot terus berlatih, siang-sore, panas-hujan tidak Gatot hiraukan. Namun, tibas-tiba Gatot sakit, karena latihan sepak bolanya yang tidak diatur.
Tibalah hari yang dinantikan. Kabar burung heboh menyelimuti seisi sekolah. Sejak kemarin Gatot tidak masuk, ternyata ia sakit demam dan meriang.
“Teman-teman yuk kita jenguk Gatot saja. Sepak bolanya batal,” ajak Fadli pada teman-temannya.
“Lho, pertandingannya kan sekarang. Kita jangan mau dikatakan pengecut,” tolak Andi.
“Sudahlah, sekarang ikut aku saja ke rumah Gatot, yuk,” ajak Fadli sekali lagi. Mereka tahu apa yang dimaksud Fadli adalah baik.
Di rumah Gatot, Ia terbaring lemas. Ibunya mempersilahkan Fadli dan teman-temannya masuk. “Gatot! ada teman-temanmu,” kata Ibu Gatot.
Betapa kaget raut wajah Gatot mengetahui siapa yang datang menjengunknya. Gatot terharu dan meminta maaf atas kelakuannya selama ini dan tentang surat tantangan itu.
Mereka tenggelam dalam canda. Akhirnya Fadli dan teman-temannya berjabat tangan dengan Gatot sebagai tanda persahabatan. (Penulis, murid MTs Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta)